Neon Genesis Evangelion Review dan Analisis – Menemukan tujuan hidup dan menjadi manusia

Neon Genesis Evangelion © GAINAX Co.

Neon Genesis Evangelion adalah satu anime terkompleks dan terumit yang pernah saya tonton. Diperlukan sedikit penggalian materi dan penelitian untuk benar-benar membuat saya memahami akar dari cerita yang diangkat.

Meskipun reboot-nya cukup menarik namun di sini saya akan lebih membahas tentang anime orisinilnya yang berisikan 26 episode (1995) dan juga filmnya (End of Evangelion and Death and Rebirth). Dilirik sekilas dari permukaan, kita tahu bahwa Evangelion mengusung tema Mecha (genre fiksi ilmiah yang fokus pada robot raksasa atau mesin yang dikendalikan oleh manusia); mengenai akhir dunia dan beberapa remaja yang mengendarai biomekanik robot raksasa untuk melawan makhluk asing, alien slash monster, yang disebut sebagai angel atau malaikat.  Tapi di balik itu ada substansi lain yang membuat anime ini begitu fenomenal, yaitu saratnya aspek-aspek psikologi, seperti hubungan antarmanusia, eksplorasi motivasi dan tujuan hidup, perkembangan psikoseksual para karakternya, bagaimana menjadi manusia, dan pada akhirnya itu semua akan bermuara pada arti dan esensi hidup.

Evangelion adalah kisah fiksi ilmiah pasca-apokalitik yang terjadi lima belas tahun setelah “Second Impact” atau “Dampak Kedua”, yang merupakan bencana luar biasa yang berimbas ke seluruh dunia dan membangkitkan alien atau entitas asing, besar dan berkekuatan super, yang nantinya disebut Malaikat. Di tahun 2015, Bumi kemudian sering didatangi dan diserang secara sporadis oleh para Malaikat yang berasal dari luar angkasa ini. Untuk memerangi mereka, manusia menciptakan robot berteknologi canggih yang bekerja dengan sinkronisasi antara robot dan pilot yang mengendarainya yang disebut Eva. Berlangsung di tempat bernama Tokyo-3, Evangelion berkisar tentang Shinji ikari, seorang remaja berusia 14 tahun yang terpaksa melawan Malaikat akibat desakan ayahnya, yang merupakan inventor dari Eva dan bekerja sebagai ilmuwan di organisasi bernama NERV.

Eva tentu saja tidak seperti yang terlihat. Mereka sebanarnya adalah bekas Malaikat yang ditanamkan bersamaan dengan jiwa-jiwa manusia yang diubah menjadi mecha raksasa, “Eva pada dasarnya tidak memiliki jiwa, tapi mereka memiliki jiwa manusia yang dibenamkan di dalam diri mereka,” jelas Ritsuko Akagi, salah satu peneliti di NERV – dan diimplikasikan dengan jelas bahwa jiwa-jiwa yang tertanam harus merupakan ibu sang pilot. Itulah mengapa Shinji mengalami beberapa penglihatan mengenai ibunya ketika mengendari Eva.

Setiap karakter di Neon Genesis Evangelion memiliki kemelut dalam diri mereka masing-masing, iblis yang mereka lawan tidak hanya sekadar fakta bahwa mereka sedang memerangi para Malaikat di dunia yang kelam pasca-apokalitik ini melaikan juga gejolak, pergumulan, dan pertentangan batin mereka sebagai manusia. Bagi kebanyakan remaja, memiloti robot raksasa untuk melawan musuh dan menyelamatkan dunia terlihat sangat keren dan mungkin saja menjadi sebuah impian, namun hal tersebut justru menjadi paradoks dalam Evangelion di mana para pilot remaja tersebut merupakan penderita PTSD (post-traumatic stress disorder) yang terpaksa bertempur menghadapi kengerian Malaikat karena perintah dari orang dewasa yang seharusnya melindungi mereka.


Ulasan Karakter.

Shinji Ikari.

Sebagai protagonist, Ikari Shinji memiliki karakter yang bisa dibilang cukup menarik. Shinji digambarkan sebagai pemalu, pendiam, penyendiri, depresi, namun baik hati dan peduli dengan orang lain. Setelah ibunya (Ikari Yui) meninggal ketika ia berusia 3 tahun, ia ditinggal sendirian oleh ayahnya dan hidup bersama sensei­-nya selama 11 tahun sebelum dipanggil oleh ayahnya ke Tokyo-3 untuk menjadi pilot EVA Unit-01 melawan Malaikat. Salah satu karakter yang cukup kompleks, orang-orang mungkin akan merasa sebal dengannya karena banyak momen di mana ia tidak memiliki pendirian dan terkesan penakut. Shinji penuh keraguan dan sangat membenci diri sendiri, dia secara konsisten terjatuh ke dalam lingkaran depresi yang sama, yang membuatnya justru semakin membenci dirinya sendiri lantaran ia merasa pengecut dan tak berguna—sebagian besar dipicu karena ketidakmampuannya untuk memiloti Eva Unit-01 yang diserahkan padanya. Ketidakhadiran ayahnya di masa kecilnya serta terus-menerus diasingkan oleh orang yang sangat ia butuhkan membuat Shinji tidak mampu dan tidak ingin membangun hubungan dengan orang lain. Sebagaimana seseorang yang memiliki depresi akut, sepanjang cerita Shinji sering menolak untuk berubah, beraktivitas, dan berkembang—kita sering melihat adegan di mana ia terbarik di kasurnya dan mendengarkan musik. Misato Katsuragi bahkan sering kali memarahi Shinji dan mengatakan bahwa NERV tidak menginginkan pilot yang tidak memiliki keteguhan hati.

Shinji Ikari

Rei Ayanami.

Karakter selanjutnya adalah Rei Ayanami. Salah satu karakter paling misterius dan membingungkan karena banyak hal yang kita tidak ketahui darinya, ditambah dengan sifatnya yang pendiam dan jarang menunjukkan emosi. Rei tidak memiliki masa lalu karena semua datanya telah terhapus. Ia adalah pilot Unit-00 dan sebenarnya merupakan klona dari ibu Shinji, dibuat dari sisa-sisa Yui Ikari yang masih bisa diselamatkan setelah Yui tertelan dan menghilang ke dalam Unit-01 di tahun 2004. Itu berarti jika Rei mati, kehadirannya dapat digantikan lagi oleh klona Rei selanjutnya, dengan cara mentransfer jiwannya ke dalam “dummy” atau klona Rei yang lain (lihat episode 23).  Rei Ayanami juga merupakan wadah dari Lilith. Dalam episode 24, Kaworu Nagisa mengatakan pada Rei bahwa mereka “sama”. Pernyataan ini kemudian dijelaskan dalam director’s cut episode, di mana Kaworu selanjutnya mengatakan bahwa dia dan Rei, masing-masing adalah wadah manusia dari jiwa Adam dan Lilith. Misteri dan peran Rei Ayanami tidak begitu dijelaskan pada original 26 episodenya, namun sosoknya menjadi kunci pada film The End of Evangelion.

Rei Ayanami

Asuka Langley Sohryu.

Asuka Langley mungkin menjadi salah satu tokoh yang terlihat menyebalkan di awalnya, karena sifatnya yang terkesan ‘bitchy’, agresif, dan ingin menang sendiri. Asuka adalah individu yang memiliki ego dan kebanggaan tinggi terhadap dirinya, terutama tentang ketrampilannya sebagai pilot Eva—ia mengendarai Eva Unit-02. Ia tidak suka direndahkan dan selalu ingin menunjukkan bahwa ia lebih baik dari yang lain. Ia keras kepada dan sulit mengungkapkan perasaannya terhadap orang lain. Istilah yang sering digunakan untuk mengkategorikan sifatnya adalah tsundere (ツンデレ) dalam bahasa Jepang. Meskipu begitu, kepribadian keras tersebut hanya merupakan tameng untuk melindungi sosok perempuan yang sebenarnya rapuh dan insecure. Gadis berambut oranye ini memiliki masa lalu yang sama tidak enaknya dengan Shinji, dan mungkin lebih kelam. Sama seperti Yui, ibu Asuka pun berpartisipasi dalam eksperimen dengan Eva Unit-02, namun bedanya ia tidak menghilang melainkan menjadi gila. Ia selalu memegang boneka yang ia kira adalah Asuka dan mengabaikan Asuka yang asli. Ia akhirnya mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Asuka mengemudikan Eva untuk mencari makna dalam hidup, dan tanpanya ia berubah menjadi gadis terpuruk yang hanya bisa menangis di dalam apartemennya yang suram.

Asuka Langley Sohryu

Di balik semua kesuraman dan kesengsaraan dari sisi psikologi yang dialami karakternya, Evangelion juga dipenuhi dengan referensi ikonografi, mistisisme agama dan mitologi, yang semakin memperkaya serta memperumit narasinya.  Neon Genesis Evangelion secara harfiah berarti awal yang baru. Neon berasal dari kata Yunani Neos yang berarti “baru,” Genesis adalah permulaan dan merujuk pada pembukaan di Alkitab, dan Evangelion adalah gospel atau kabar baik.

Kehadiran makhluk yang disebut Malaikat yang bernama Adam dan Lilith menjadi salah satu referensi dari cerita rakyat Yahudi. Lilith diciptakan hampir bersamaan dengan terciptanya Adam dan biasanya digambarkan sebagai ibu dari para iblis, yang berarti dia adalah jahat. Di Evangelion, manusia adalah keturunan dari Lilith. Sementara itu, sistem magi, jaringan super komputer yang mengoperasikan NERV memiliki tiga bagian yang masing-masing diberi nama yang diambil dari ‘tiga pria bijak’ berdasarkan tradisi Kristen; Casper, Balthasar, and Melchior.


Sebagian besar acuan keagaaman berlandaskan mistisisme Yahudi dan Kabbalah, salah satu praktik atau ajaran di Yahudi. Kabbalah adalah praktik pendalaman iman dan ajaran mistik yang mencari wahyu agama dan pengetahuan suci. Sebagian besar malaikat di Eva diambil langsung dari teks-teks pada Yudaisme seperti Zohar (pada dasarnya kitab Kabbalah), Talmud dan buku Henokh. Sebagian yang lain ditulis dalam el teosofi – suatu bentuk tulisan yang menggunakan akhiran “el”, yang merupakan salah satu dari banyak kata Ibrani untuk menyebutkan Tuhan atau entitas yang tinggi; Ramiel, Sachiel, Matarael, Shamsel, Gaghiel, dan lainnya. Dalam tradisi Kabbalah, makhluk pertama yang tercipta adalah Adam Kadmon, yang sangat mirip dengan raksasa cahaya yang merupakan malaikat pertama Eva, bernama Adam yang meledak pada Second Impact, yang membunuh setengah populasi Bumi dan mengubah lautan menjadi laut merah.

Esensi dari Kabbalah adalah penyatuan kembali dunia, dan berbagai fragmen Adam yang terpecah-pecah yang disebut Sefirot, yang digambarkan sebagai pohon kehidupan—yang merupakan 10 atribut dalam Kabbalah. Dan dilambangkan dengan 10 lingkaran yang membuat pola khusus. Itulah kenapa sebuah lingkaran tiba-tiba muncul di sekitar Eva Unit-01 ketika diserang oleh sembilan Malaikat buatan—mereka semua sedang memenuhi tugas suci atau tujuan Kabbalah (lihat The End of Evangelion). Sefirot menyatukan kembali segalanya, menciptakan ulang alam semesta sebagai suatu keseluruhan yang lengkap, dan demi meraih itu, maka harus menghancurkan individualitas dan sekat antarmanusia yang mendefinisikan kehidupan seperti yang kita kenal. SEELE adalah organisasi misterius yang memiliki pengaruh besar terhadap pemerintahan dunia, yang targetnya adalah Human Instrumentality Project—sebuah tujuan untuk menyatukan umat manusia sebagai satu, sehingga mengakhiri semua perang dan jerih payah setiap individu. “Melalui kematian yang tanpa pandang bulu dan melalui doa, kita akan kembali ke keadaan semula, dan jiwa kita akan damai.”

Kehancuran dan penyatuan kembali ini akhirnya terjadi setelah Adam dan Lilith DNA bergabung di dalam tubuh Rei. Penyatuan kembali dengan aspek maskulin dan feminin dari para Malaikat berarti penyatuan dunia juga. Hal ini menimbulkan pertanyaan, kenapa dunia harus dipersatukan kembali? Apakah ada makna tersendiri jika dunia hancur? Jawaban itu ada pada sebuah metafora yang sering kita dengar di anime ini; The Hedgehog’s Dilemma atau dilema landak.

Evangelion adalah serial yang berlokasi di dunia di mana setengah populasi telah lenyap, kita diperlihatkan gambaran ruang kelas yang kosong, gedung terbengkalai, dan jalanan yang lengang. Keadaan yang suram dan kelam menjadi atmosfer yang ditonjolkan, ditambah lagi dengan ancaman terhadap kemanusiaan berbentu alien raksasa. Dunia yang seperti ini adalah dunia yang menyedihkan. Penderitaan yang dialami para karakter di Evangelion diibaratkan dengan hewan landak, yang dikemukakan oleh filosofis terkemukan, Arthur Schopenhauer.

Dalam bukunya Parega dan Paralipomena: Esai Filsafat Pendek. Volume 2, Schopenhauer merincikan perumpamaan singkat yang dikenal sebagai Dilema Landak (Hedgehog’s dilemma). Ia menjelaskan kondisi manusia dengan mengumpamakan manusia sebagai landak yang berkumpul bersama untuk mencari kehangatan saat musim dingin sehingga tidak membeku. Meskipun sama-sama membutuhkan kehangatan, mereka tidak bisa terlalu dekat karena bulu duri mereka akan saling menyakiti satu sama lain. Karena itulah mereka menjaga jarak dan harus menahan rasa dingin atau mencoba belajar hidup tanpa kehangatan orang lain. Pada episode 3, perumpamaan filosofis ini diungkapkan dalam percakapan antara Ritsuko dan Misato.

Keinginan untuk tidak terluka dan melukai menjadi batu sandungan utama bagi para tokoh di Evangelion, yang akhirnya menciptakan dunia penuh keputusasaan. Kita melihat dunia itu, dan implikasinya dalam episode 16 berjudul, “sickness unto death“—atau penyakit sampai mati, yang merupakan referensi kepada filsuf Denmark Soren Kierkegaard. Penyakit sampai mati adalah keputusasaan – kesepian eksistensial yang mengerikan, yang sejalan dengan teori landak Schopenhauer.

Dalam bukunya “The World as Will and Representation” Schopenhauer berpendapat bahwa hidup adalah penderitaan karena dunia terdiri dari kehendak (will) dan representasi. Bagi Schopenhauer, hakikat realitas adalah persatuan. Kita semua akan mencapai kedamaian bila kita menghilangkan usaha kita untuk saling berkomunikasi antarindividu. Penderitaan adalah hasil dari individualitas. Menjadi manusia berarti menderita karena kita berkomunikasi, berpersepsi, dan memiliki pemahaman yang tidak akan pernah sempurna, dan upaya untuk terhubung satu sama lain itulah yang merupakan sumber penderitaan kita.

Evangelion adalah serial yang sangat menarik, memutar otak, menghibur dan menyedihkan di waktu bersamaan. Masih banyak hal yang sebenarnya masih bisa ditelaah dalam anime ini. Neon Genesis Evangelion ini sangat berhasil membawakan suasana depresi yang nyata, dengan animasi yang mumpuni dan diikuti soundtract serta score yang apik membuat anime ini menjadi kombinasi yang sempurna bagi kamu yang menyukai seri mecha berbobot.

Evangelion mempunyai citra sebagai anime yang depresi dan suram, well, that’s not wrong, but there’s more to it than meet the eye. Pada akhirnya Evengelion justru memberikan pesan yang indah dan membangun.

Anywhere can be paradise as long as you have the will to live. After all, you are alive, so you will always have the chance to be happy. As long as the Sun, the Moon, and the Earth exist, everything will be all right. – Yui Ikari.

SCORE: 8.9/10

Leave a Reply

Your email address will not be published.