Paprika Review – Perjalanan yang mengaburkan mimpi dan kenyataan

Paprika © Madhouse Inc.

Bagaimana rasanya bila kita memiliki sebuah kuasa atas mimpi orang lain? Tak hanya dapat melihat namun juga memasuki dan berbagi mimpi tersebut. Sesuatu yang abstrak dan masih menyimpan banyak pertanyaan inilah yang menjadi tema dasar film animasi garapan Satoshi Kon pada tahun 2006 berjudul Paprika. Dieksekusi dengan sangat brilian dan apik, film ini pun dikatakan mendasari terciptanya karya fenomenal lain. Bila kamu adalah penggemar dari Inception milik Christopher Nolan, mungkin kamu sudah seharusnya tahu bahwa Paprika merupakan inspirasi utama film yang dirilis pada tahun 2010 ini. Pada beberapa adegan pun kamu bisa melihat persamaan yang begitu kentara. Tapi bukan berarti Inception adalah karbon kopi Paprika. Meskipun membahas subjek yang sama dan menggunakan konsep teknologi yang serupa, namun secara fundamental plot keduanya berbeda dan melaju ke arah yang berlainan.

Persamaan adegan Paprika dan Inception.

Animasi Jepang terkenal dengan konsep dan ide-ide baru yang tak biasa, karena komunitas ini secara umum sangat menyambut segala jenis eksperimen meskipun dengan topik paling di luar nalar sekalipun. Satoshi Kon, sebagai salah satu sineas paling berpengaruh yang berspesialisasi dalam animasi, telah menyalurkan pikiran dan kecerdikannya yang luar biasa melalui empat film dan sebuah televisi mini-series. Paprika adalah film keempat yang disutradarai Satoshi Kon dan film terakhir sebelum kematiannya pada tahun 2010 di usia 46. Film ini adalah karya kedua Kon setelah Perfect Blue yang pernah saya tonton. Salah satu ciri khas Kon, selain pengeditan dan animasi yang memaukau adalah topik yang ia angkat. Jika kamu perhatikan, Kon sangat suka bermain dengan dimensi ruang dan waktu, sesuatu yang selalu ingin dia selidiki dan eksplorasi, seperti terlihat dalam Paprika dan Perfect Blue, ketika ia membuat kita menjelajahi ranah realitas, mimpi, fantasi, dan ilusi. Kon adalah seorang artis dan visioner pada zamannya, empat menit adegan pembuka Paprika sudah cukup untuk menunjukkan betapa briliannya Satoshi Kon.

Paprika mengaburkan batas antara mimpi dan kenyataan, sebuah perjalanan absurd yang membuatmu terkatung-katung di antara kenyataan dan alam bawah sadar, di mana kehidupan nyata dan ilusi saling berbenturan, bertabrakan, dan berbaur menjadi satu. Ditunjang dengan animasi dan imagi yang memukau, Paprika merupakan film surrealis yang mengingatkan saya pada karya-karya seniman surrealis ternama Salvador Dali. Secara visual, Paprika sangatlah unggul dan sempurna, mengingat bahwa ia dirilis pada tahun 2006. Melalui gambaran, imaginasi, dan adegan yang tidak umum, Paprika menghasilkan hal-hal yang tidak mungkin diaktualisasikan dengan aktor dalam film live-action. Kamera memotong, bergeser, dan berubah dari satu gambar ke gambar lainnya, yang membuatnya terlihat begitu nyata dan hampir menyerupai sebuah mimpi yang sebenarnya.

Paprika mengabil kisah di masa depan, ketika sebuah teknologi dikembangkan dalam dunia psikoterapi untuk membantu orang-orang dengan gangguan neurologis dan psikologis. Perangkat ini disebut DC Mini, diciptakan oleh ilmuwan obesitas bernama Kosaku Tokita, yang memungkinkan pengguna untuk melihat, masuk, memanipulasi, dan bahkan berbagi mimpi. Melalui alam bawah sadar, psikiater diharapkan mampu mengobati pasien dengan masalah kejiwaannya. Namun sayangnya, perangkat ini dikatakan belum teregulasi, karena itu penyalahgunaan teknologi tersebut akan sangat berbahaya. Setelah mendengar ada beberapa perangkat yang dicuri, Dokter Chiba Atsuko, salah satu peneliti, mencoba mengambil alih masalah ini untuk memecahkan misteri di baliknya dan mengambil kembali alat tersebut sebelum masalah yang lebih besar terjadi.

Plot yang terkesan sederhana namun sebenarnya secara keseluruhan Paprika cukup membingungkan dan membuatmu bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. Film ini sangat padat dan mengalir dengan tempo yang cepat, sehingga tidak memberi kita waktu untuk menarik napas atau bahkan menekuri sebuah adegan terlalu lama.

Siapa itu Paprika?

Di awal adegan kita sudah melihat penampakan Paprika, gadis muda yang energik dan terlihat supel. Ia membantu seorang detektif bernama Konakawa untuk menyelesaikan masalahnya melalui mimpi dengan DC Mini. Pada dasarnya, Paprika adalah persona atau alter ego dari Atsuko Chiba–yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Paprika; lebih dingin dan tenang–ketika ia berada di alam bawah sadar. Seiring berjalannya cerita, sosok Paprika seperti terpisah dari Atsuko dan memiliki kehidupan serta akalnya sendiri, yang terlihat menjelang akhir cerita. Ia berperan lebih selayaknya malaikat penjaga Atsuko yang membantunya di dunia nyata.

Lalu, bagaimana dengan DC Mini?

Pada adegan awal setelah penggalan-penggalan mimpi Konakawa, kita diperlihatkan bentuk DC Mini yang menyerupai headset dan dibutuhkan dua alat – satu ditanamkan di kepala pasien serta satu lagi di kepala psikoterapis – agar dapat berbagi mimpi. Setelah mengetahui bahwa perangkat tersebut dicuri, Dr. Chiba Atsuko melaporkan bahwa sang inventor, Tokita, belum memprogram kontrol akses untuk DC Mini, yang berarti bahwa seseorang yang mencuri DC Mini dapat terhubung ke mesin psikoterapi tersebut kapan saja dan di mana saja, dan memiliki akses kepada orang lain yang juga terhubung.

Halusinasi pertama diawali oleh Dokter Shima, ilmuwan tua berkacamata yang juga kolega dari Atsuko dan Tokita. Ketika mereka sedang melakukan pertemuan dadakan dengan Dr. Seijiro Inui, ketua organisasi tersebut, secara tiba-tiba Shima mengoceh tentang katak dan gadis-gadis yang menari sebelum akhirnya belari dan melompat menembus jendela kaca. Setelah diselidiki ternyata seseorang telah memanipulasi mimpi Shima. Ilusi yang sama juga terjadi pada Atsuko saat ia sedang melakukan penyelidikan di kediaman salah satu ilmuwan yang dicurigai sebagai pelaku. Pagar yang ia coba lompati sontak meluruh di depan matanya dan kenyataan berubah menunjukkan bahwa ia sebenarnya telah mencoba meloncati balkon yang berada di lantai atas apartemen.

Meskipun tidak memakai DC Mini, namun kenapa alam bawah sadar mereka masih dapat dipengaruhi? Di adegan selanjutnya ketika sedang makan siang, Tokita menguraikan, “DC Mini bekerja bergantung pada frekuensi penggunaannya, jika semakin sering terpapar makan tubuh mungkin beradaptasi.” Jadi, meskipun tidak sedang menggunakan alat tersebut dan tidak sedang tidur, orang-orang yang telah bersingungan dengan mesin ini mungkin saja rentan akan invasi DC Mini. Mereka pun harus semakin berhati-hati dan menemukan pelakunya secepat mungkin.

Salah satu elemen kunci dalam film yang sering muncul selama rangkaian mimpi adalah parade atau pawai yang terlihat abnormal. Didampingi oleh musik yang ceria karangan Susumu Hirasawa, parade gila ini penuh dengan berbagai entitas yang tampak aneh, seperti peralatan rumah tangga, bonek-boneka, patung, dan ikon-ikon dunia yang hidup, katak yang memainkan instrumen, dan lain sebagainya. Bisa dikatakan arak-arakan ini seperti sebuah tumor yang menyebar dan menjalar melalui mimpi. Pertama kali muncul adalah pada mimpi Shima, kemudian menyebar di antara mimpi individu lain, sampai pada satu titik, parade tersebut menerobos ke dunia nyata dan menghancurkan batas-batas antara mimpi dan kenyataan, menyatukan segala sesuatu dan mengubah semua orang menjadi bagian dari karnaval ajaib ini.

Parade di film Paprika. © Madhouse Inc.

Paprika tak hanya sekadar film namun juga adalah sebuah pengalaman. Pengeditan dan visual Kon yang memesona telah membuat Paprika mampu menghadirkan dreamscape yang mengaburkan garis fantasi dan kenyataan. Ini seperti sedang bejalan-jalan santai di taman, namun tak lama berselang dunia di sekitarmu seketika berubah dan kamu tidak yakin lagi kakimu membawamu ke mana, dan saat itulah kamu telah berada pada cengkraman alam bawah sadarmu. Di sini ketrampilanmu dalam mengambil keputusan seperti sedang diuji karena logika telah perlahan-lahan menjauh, hal yang semula terlihat masuk akal pada titik tertentu justru irasional. Kamu tidak menyadari kapan hal-hal tertentu terjadi atau mengapa hal itu terjadi sama sekali. Bagaikan tergelincir ke dalam ilusi atau sedang bermimpi tetapi kamu terbangun dan sadar. Kerumitan itu semua dapat divisualisasikan dengan sempurna melalui teknik animasi dan gambaran-gambaran yang brilian dari Kon. Batas antara realitas dan mimpi tidak hanya samar untuk karakternya saja melainkan juga para penonton.

Paprika jelas merupakan sebuah mahakarya, puncak dari perjalanan Kon sebagai sutradara dan pembuat film. Beberapa hal memang tidak mudah begitu saja dicerna. Namun secara keseluruhan film ini menyampaikan pesannya dengan jelas; mengenai dunia alam bawah sadar kita, bagaimana menghadapi trauma dan terus maju, penyalahgunaan teknologi, fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, serta bagaimana menghadapi perasaan terpendam kita. Poin tambahan lain yang harus ditekankan adalah bahwa setiap karakter memiliki momen mereka masing-masing dengan proporsi yang pas, dan motif serta tujuan yang jelas. Terlebih pendalaman karakter pemeran utama yang dieksekusi dengan tepat.

Paprika merupakan sebuah kontradiksi yang mana ia mengusung tema yang cukup berat dengan cerita yang sebenarnya agak suram, tetapi dibalut dengan animasi yang atraktif dan menawan dengan warna-warna cerah dan score musik yang ceria. Pembauran kedua hal tersebut justru berhasil menciptakan suasana ngeri yang sulit untuk dijelaskan.

© Madhouse Inc.

Selain ide dan cara pengeditannya, beberapa adegan ikonis dalam film Kon menjadi inspirasi bagi banyak sutradara kenamaan dunia lain, sebut saja Inception dan Black Swan. Sangat menyedihkan bila mengingat seorang visioner dan jenius seperti Kon meninggalkan kita begitu cepat. Namun hanya dengan empat film dan satu TV seri saja, Satoshi Kon berhasil mematenkan dirinya sebagai legendaris dengan mengembangan gaya pengeditan yang mampu melengkungkan ruang dan waktu.

SCORE: 8/10


Paprika trailer.

Leave a Reply

Your email address will not be published.